Banner
BPPAUDDIKMAS KALTENGDITJEN PAUDDIKMAS
Jajak Pendapat
Bagaimana menurut Anda tentang tampilan website ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
  Lihat
Statistik

Total Hits : 22531
Pengunjung : 1554
Hari ini : 6
Hits hari ini : 10
Member Online : 0
IP : 54.161.71.87
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

karsajobfair    
Agenda
23 September 2018
M
S
S
R
K
J
S
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6

THE POWER OF VISION

Tanggal : 11-12-2017 12:52, dibaca 38 kali.

Syahdan, suatu hari pada bulan yang lalu, saya melaksanakan tugas perjalanan dinas dari Makassar ke Jakarta menggunakan pesawat salah satu maskapai penerbangan. Sudah menjadi kebiasaan, untuk membuang waktu dalam perjalanan, saya membaca, membaca apa saja. Kebetulan, saat itu di saku kursi pesawat tersedia majalah yang diterbitkan maskapai.

Saat membaca, tanpa sengaja saya menangkap sebuah artikel di majalah tersebut yang menarik perhatian saya, judulnya “Kekuatan Visi”. Artikel itu sebanyak dua halaman.

Ketertarikan saya terhadap judul artikel itu sebenarnya lebih disebabkan adanya keinginan terpendam yang sudah cukup lama untuk membuat tulisan dengan judul yang sama. Namun agar kelihatan tidak terkesan plagiat dan terlihat lebih “nggaya”, maka judul tulisan ini saya buat menjadi “The Power of Vision”. Tulisan ini saya jamin bukan merupakan plagiasi artikel di majalah maskapai itu, walaupun saya ingin mencuplik beberapa bagian dari tulisan itu.

Salah satu yang menarik dari artikel di majalah maskapai itu adalah tulisan yang memuat dialog atau wawancara seorang mandor dengan tiga orang tukang batu. Ketika diajukan pertanyaan yang sama, jawaban ketiga tukang itu ternyata berbeda-beda.

Sang mandor mengajukan pertanyaan kepada tukang pertama “Apa yang sedang bapak kerjakan?”. Tukang pertama menjawab “Saya sedang menyusun batu bata pak”. Jawaban tukang itu persis sama dengan apa yang sedang dia kerjakan.

Kemudian, sang mandor beralih kepada tukang kedua dan mengajukan pertanyaan yang sama, “Apa yang sedang bapak kerjakan?”. Tukang kedua menjawab agak berbeda, “Saya sedang membangun sebuah tembok pak”. Tukang kedua ini juga menjelaskan ukuran tembok yang dikerjakan, darimana mulai bekerja, kapan mulai dan selesainya pekerjaan.

Terakhir, sang mandor mengajukan pertanyaan yang sama juga kepada tukang ketiga, “Apa yang sedang bapak kerjakan?”. Maka tukang ketiga pun menjawab “Saya sedang membangun sebuah rumah yang sangat indah pak”. Tukang ketiga ini memberikan penjelasan yang sangat detail. Bentuk, ukuran, warna serta bahan-bahan yang digunakan untuk membangun rumah tersebut. Tukang ketiga ini bahkan dapat menjelaskan aktivitas-aktivitas yang dapat dilakukan di rumah tersebut nantinya.

Dari jawaban ketiga tukang tersebut, kita dapat memetik hikmah dan pelajaran. Yaitu tentang sebuah “visi”. Tukang pertama jelas tidak memiliki visi. Dia hanya mengerjakan apa yang diperintahkan, yaitu menyusun batu bata. Tukang kedua, sudah memiliki visi, walaupun masih sangat terbatas. Sedangkan tukang ketiga, tampak lebih memiliki visi jauh ke depan yang lebih jelas (disarikan dari Lionmag, November 2017).

Cerita mandor dan tiga tukang di atas adalah cuplikan isi artikel majalah terbitan maskapai yang sempat saya baca. Setelah membaca cerita di artikel tersebut, saya kemudian teringat akan sebuah kisah yang pernah saya dengar. Saya sudah lupa siapa yang bercerita dan kapan kisah  itu diceritakan. Tetapi saya masih ingat betul apa isi cerita itu, walaupun saya juga tak yakin, apakah cerita tersebut benar atau hanya isapan jempol belaka. Yang pasti, menurut saya, cerita itu menarik, dan ada yang dapat kita ambil hikmahnya. Cerita itu adalah kisah tentang bunga rampai perjalanan perjuangan Raden Wijaya dalam mendirikan kerajaan Majapahit.

Menurut wikipedia (https://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Wijaya), Raden Wijaya adalah pendiri Kerajaan Majapahit, dan sekaligus raja pertama Majapahit yang memerintah pada tahun 1293-1309. Bergelar Prabu Kertarajasa Jayawardana, lengkapnya Nararya Sanggramawijaya Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardhana.

Raden Wijaya merupakan menantu Prabu Kertanagara, raja terakhir Kerajaan Singhasari. Menurut prasasti Balawi dan Nagarakretagama, Raden Wijaya menikah dengan empat orang putri Kertanagara. Keempat putri itu adalah TribhuwaneswariNarendraduhitaJayendradewi, dan Gayatri. Sedangkan menurut Kitab Pararaton, Raden Wijaya hanya menikahi dua orang putri Kertanagara, dan seorang putri dari Kerajaan Malayu bernama Dara Petak.

Menurut Prasasti Kudadu, pada tahun 1292 terjadi pemberontakan Jayakatwang bupati Gelang-Gelang terhadap kekuasaan Kerajaan Singhasari. Raden Wijaya ditunjuk Kertanagara untuk menumpas pasukan Gelang-Gelang yang menyerang dari arah utara Singhasari. Raden Wijaya berhasil memukul mundur musuhnya. Namun pasukan pemberontak yang lebih besar datang dari arah selatan dan berhasil menewaskan Kertanagara.

Menyadari hal itu, Raden Wijaya melarikan diri hendak berlindung ke Terung di sebelah utara Singhasari. Namun karena terus dikejar-kejar musuh ia memilih pergi ke arah timur. Dengan bantuan kepala desa Kudadu, ia berhasil menyeberangi Selat Madura untuk bertemu Arya Wiraraja penguasa Songeneb (nama lama Sumenep). Bersama Arya Wiraraja, Raden Wijaya merencanakan siasat untuk merebut kembali takhta dari tangan Jayakatwang.

Nah, dalam perjalanan perjuangannya itulah muncul beberapa bunga rampai kisah yang salah satunya pernah saya dengar. Sekali lagi, saya tidak tahu masalah kebenaran cerita tersebut. Yang pasti, menurut saya, dari cerita tersebut kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran. Secara garis besar, cerita itu adalah sebagai berikut.

Saat itu Raden Wijaya sedang dalam proses memperjuangkan merebut kembali takhta dari tangan Jayakatwang. Sebuah perjuangan yang pada akhirnya nanti akan berbuah manis dengan keberhasilannya mendirikan sebuah kerajaan besar, dengan nama Majapahit.

Suatu malam, saat dalam pelarian, Raden Wijaya sedang dalam perjalanan melalui jalur sungai menggunakan sebuah perahu. Dia ditemani 3 orang pengikut setianya. Tiga orang itu terdiri dari 1 orang pengayuh perahu, 1 orang pengawal atau penjaga keselamatannya, dan 1 orang penasehat yang merupakan ahli strategi.

Pada saat itu malam telah larut, tetapi pengayuh perahu masih harus terus bekerja keras. Memeras keringat untuk mengayuh perahu. Sementara, pengawal dan penasehat tertidur lelap. Sedangkan Raden Wijaya, hanya memejamkan mata. Tampak tertidur tetapi sebenarnya belum tidur.

Di tengah suara kecipak air sungai yang tertampar dayung, sambil terus mengayuh dan memandangi pengawal dan penasehat yang tertidur lelap, sang pengayuh perahu bergumam “Enak benar dua orang itu, gajinya jauh lebih besar dari saya, tetapi di saat aku masih harus bekerja keras, mereka sudah enak-enakan tidur mendengkur”.

Setelah menghela nafas dan mengusap keringat sejenak, pengayuh perahu terus menggerutu: “Harusnya kan dia bekerja lebih keras dari saya, sungguh tidak adil, pokoknya besuk pagi saya akan bicara dengan Raden Wijaya untuk minta gaji yang lebih besar dari dua orang itu”.

Walaupun hanya menggumam, karena memang belum benar-benar tertidur, Raden Wijaya masih dapat mendengar dengan jelas ucapan pengayuh perahu. Raden Wijaya berpikir bagaimana cara menjelaskan kepada pengayuh perahu, jika besuk dia benar-benar menghadap dirinya.

Di tengah Raden Wijaya berpikir keras, tiba-tiba terdengar suara seperti suara lolongan, atau tepatnya ringikan binatang. Suara itu terasa begitu dekat. Raden Wijaya meminta pengayuh menghentikan perahunya dan menambatkannya di pinggiran sungai. Kemudian, Raden Wijaya memberikan perintah kepada pengayuh “Paman, tolong kamu lihat itu suara apa?”. Setelah menghormat, pengayuh itupun berjalan menuju arah asal suara. Setelah pengayuh kembali, dia pun melapor.

Pengayuh        : “sudah saya lihat Raden”

Raden Wijaya : “apa yang kamu lihat paman?”

Pengayuh        : “ternyata itu tadi suara anjing lagi beranak”

Raden Wijaya : “anaknya berapa?”

Pengayuh        : “waduh tadi saya tidak menghitungnya”

Raden Wijaya : “coba kamu lihat lagi”

Pengayuh        : “baik Raden”

Pengayuh pun pergi lagi ke tempat anjing yang telah dilihatnya tadi, dan setelah menghadap, dia pun kembali melapor.

Pengayuh        : “anaknya ada tiga ekor Raden”

Raden Wijaya : “warnanya apa saja?”

Pengayuh        : “maaf Raden, tadi saya tidak memperhatikan warnanya, karena gelap”

Raden Wijaya : “tolong kamu lihat lagi”

Dengan bergegas, pengayuh kembali pergi lagi ke tempat tadi, dan ketika kembali melaporkan hasilnya kepada Raden Wijaya.

Pengayuh        : “yang satu ekor berwarna hitam, sedangkan yang dua ekor berwarna putih”

Raden Wijaya : “yang hitam jantan apa betina? demikian yang putih jenis kelaminnya apa?”

Pengayuh        : “saya tidak memeriksa jenis kelaminnya Raden”

Raden Wijaya : “paman lihat lagi ya”

Pengayuh kembali pergi ke tempat tadi, kali ini sambil menggerutu. Ketika kembali menemui Raden Wijaya, dia pun melaporkan lagi apa yang dilihatnya.

Pengayuh        : “yang hitam jantan, yang putih dua-duanya betina Raden

Raden Wijaya : “terima kasih, oh iya ada yang lupa, kalau induknya warnanya apa paman?”

Pengayuh        : “enggg … nganu Raden, saya tidak memperhatikan induknya”

Raden Wijaya : “ya sudahlah paman tidak apa-apa, hmmm … paman, saya boleh bertanya

                           satu kali lagi?

Pengayuh        : “silahkan Raden”

Raden Wijaya : “kalau boleh tahu, apa tugas atau tujuan paman membantu saya?”

Pengayuh        : “tugas saya mengayuh perahu mengantarkan ke tempat yang Raden inginkan”

Raden Wijaya : “terima kasih paman, sekarang tolong bangunkan pengawal dan antar kemari”

 

Pengayuh segera membangunkan dan mengantar pengawal menghadap Raden Wijaya. Di saat itu, suara ringikan anjing yang baru selesai beranak masih saja terdengar. Setelah pengayuh dan pengawal menghadap, Raden Wijaya memberi perintah kepada pengawal: “coba kamu periksa suara apa itu yang terdengar dari sini”. Pengawal segera berlari ke arah tempat suara. Tak begitu lama, dia kembali dan menyampaikan laporan kepada Raden Wijaya.

Pengawal         : “itu suara anjing yang baru saja melahirkan Raden. Anaknya berjumlah tiga

  ekor. Yang satu jantan berwarna hitam, yang dua betina berwarna putih.

  Induknya berwarna abu-abu”.

Raden Wijaya : “terima kasih … oh iya satu lagi, kalau boleh tahu, apa tugas atau tujuan kamu?”

Pengawal         : “tugas saya adalah menjaga keselamatan Raden sampai tujuan yang Raden

   inginkan. Saya akan mempertarukan jiwa raga saya untuk keselamatan

   Raden”

Raden Wijaya : “terima kasih, silahkan kamu beristirahat lagi”

Setelah pengawal berlalu, Raden Wijaya kembali memerintahkan pengayuh untuk membangunkan penasehat yang masih tertidur pulas dan mengantarkannya menghadap dia. Sementara itu, suara ringikan anjing masih tetap terdengar. Setelah pengayuh dan penasehat menghadap, Raden Wijaya memberi perintah kepada penasehat: “kakang mendengar suara ringikan itu? coba kakang periksa suara apa itu”. Seperti pengawal, penasehat pun segera berlari ke arah tempat suara. Dalam waktu singkat, dia kembali dan memberikan laporan kepada Raden Wijaya.

Penasehat        : “yang terdengar itu adalah suara induk anjing yang baru melahirkan Raden.

   Induk anjing itu berwarna abu-abu. Anaknya berjumlah tiga ekor. Satu ekor

  jantan berwarna hitam, yang dua ekor betina berwarna putih. Ketiga anak

  anjing dalam keadaan sehat. Induknya dapat menyusui anaknya dengan baik.

Raden Wijaya : “terima kasih … oh iya kakang, biar aku semakin mantap, tolong jelaskan apa

   tugas atau tujuan kamu menjadi penasehatku?”

Penasehat        : “tugas saya membantu Raden sampai berhasil mendirikan sebuah kerajaaan

   besar, dan akan terus membantu sampai Raden berhasil menyejahterakan

   rakyat kerajaan yang Raden pimpin nantinya”

Raden Wijaya : “aku ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kakang .. sekarang        

   silahkan kakang kembali beristirahat”

Penasehat berlalu dan melanjutkan kembali tidurnya, sehingga di tempat itu tinggal Raden Wijaya berdua saja dengan paman pengayuh perahu yang diam termangu. Suasana pun terasa hening. Tak lama kemudian, dengan senyum yang teduh dan suara yang lembut, Raden Wijaya memecah kebekuan dengan mengajukan pertanyaan kepada pengayuh perahu: “sekarang paman paham, mengapa gaji mereka berdua lebih besar dari gaji paman?, dan mengapa gaji penasehat lebih besar daripada gaji pengawal?”.

Pengayuh hanya bisa tertunduk malu menyadari kesalahannya. Raden Wijaya merangkul sang pengayuh sambil berkata “tapi percayalah, saya akan selalu memperhatikan kesejahteraan paman, sekarang mari kita lanjutkan perjalanan kita paman”. Pengayuh pun tersenyum dan kembali mengayuh perahunya dengan penuh semangat untuk melanjutkan perjalanan.

Dari kisah di atas, ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik. Kita bisa mengkategorikan ketiga pengikut Raden Wijaya. Pertama, jenis pekerja keras tapi tanpa visi. Dia bekerja hanya melaksanakan apa yang menjadi tugasnya semata. Walaupun mungkin dia bekerja dengan baik, tetapi dia tidak memahami untuk apa dan dalam rangka apa tugas itu dia laksanakan. Dia hanya melaksanakan misi tanpa paham visi. Pekerja jenis ini mungkin akan menghabiskan tenaga dan waktu, bahkan mungkin biaya yang lebih banyak untuk melaksanakan pekerjaannya, sehingga seringkali terasa kurang efektif.

Kedua, adalah jenis pekerja yang sudah memiliki visi, walaupun masih sangat terbatas. Dalam beberapa hal, pekerja jenis ini akan dapat bekerja efektif dan efisien, tetapi di beberapa hal yang lain terkadang masih belum dapat melaksanakan misinya dengan baik.

Ketiga, adalah jenis pekerja yang memiliki visi jauh ke depan lebih jelas. Visinya jauh lebih besar dan untuk kepentingan yang jauh lebih besar pula. Pekerja jenis ini pada umumnya akan dapat bekerja lebih baik, karena dia benar-benar sudah memahami visi, misi, tugas, fungsi, dan tujuannya dalam bekerja.

Visi adalah “what be believe we can be”. Visi merupakan suatu gambaran tentang masa depan organisasi atau suatu lembaga. Menentukan visi berarti menentukan tujuan serta cita-cita yang ingin diraih. Sedangkan misi adalah “what be believe we can do”.Misi adalah apa yang harus dilakukan untuk mewujudkan visi. Untuk melaksanakan misi dengan baik, seorang pekerja harus memahami tugas dan fungsinya. Agar dapat melaksanakan tugas dan fungsi sesuai arah tujuan yang diharapkan, seorang pekerja harus memiliki strategi yang tepat dalam pelaksanaanya. Dari uraian di atas, tampak bahwa visi merupakan kunci dari semuanya.

Terlebih sebagai seorang pemimpin. Pemimpin wajib memiliki visi yang besar dan jelas. Seorang pemimpin harus mampu membimbing pekerja yang dipimpinannya untuk memahami visi organisasi. Visi memiliki kekuatan yang sangat besar untuk dapat menggerakkan agar orang bekerja dengan baik, penuh semangat, penuh antusiasme, efektif dan efisien.

Seseorang yang memahami visi dengan baik, cenderung lebih memahami misi, tugas, fungsi dan tujuannya dalam bekerja, sehingga dia dapat menerapkan strategi yang tepat untuk melaksanakan pekerjaannya.

Yang terakhir, saya ingin kembali mengutip pepatah bijak yang ada pada artikel majalah maskapai yang pernah saya baca. Pepatah itu mengatakan “Vision without work is a day dream, work without vision is a nightmare”. Memang betul, visi tanpa kerja merupakan mimpi di siang bolong, kerja tanpa visi adalah sebuah mimpi buruk.



Didik Tri Yuswanto



Pengirim :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas