Banner
BPPAUDDIKMAS KALTENGDITJEN PAUDDIKMAS
Jajak Pendapat
Bagaimana menurut Anda tentang tampilan website ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
  Lihat
Statistik

Total Hits : 22552
Pengunjung : 1554
Hari ini : 6
Hits hari ini : 31
Member Online : 0
IP : 54.161.71.87
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

karsajobfair    
Agenda
23 September 2018
M
S
S
R
K
J
S
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6

STUNTING PADA ANAK USIA DINI

Tanggal : 03-01-2018 04:59, dibaca 30 kali.

STUNTING PADA ANAK USIA DINI
 

Stunting saat ini menjadi fokus perhatian dalam permasalahan anak anak di  Indonesia bahkan di dunia. Di seluruh dunia, sekitar 165 juta anak-anak usia dibawah 5 tahun terkena stunting. Sepertiga anak-anak di bawah usia 5 tahun dengan stunting hidup di negara berkembang, dan 14% kematian anak-anak disebabkan olehnya. Presiden Joko Widodo bahkan menaruh perhatian besar terhadap masalah stunting ini sebagai permasalahan yang sangat serius dan sampai saat ini belum teratasi di Indonesia. Stunting menjadi salah satu masalah utama dengan beragam masalah penyebabnya dan mempunyai banyak dampak negatif jika tidak di tanggapi dengan serius.Masalah utama yang dapat mengakibatkan stunting sebagian besar adalah dari tidak memadainya nutrisi yang baik dan terjadinya infeksi yang berulang pada 1000 hari pertama kehidupan seorang anak.Dampak panjang yang dapat timbul dari stunting adalah berkurangnya fungsi kognitif, terganggunya perkembangan fisik, dan terjadinya kesehatan yang buruk.

Stunting dan stunting gizi , adalah tingkat pertumbuhan yang menurun dalam perkembangan manusia .Ini adalah manifestasi utama malnutrisi (atau lebih tepatnya kekurangan gizi) dan infeksi berulang, seperti diare dan helminthiasis , pada anak usia dini dan bahkan sebelum kelahiran, karena malnutrisi selama perkembangan janin disebabkan oleh ibu yang kekurangan gizi.Definisi stunting menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah untuk nilai "tinggi untuk usia" kurang dari dua standar deviasi dari rata-rata Standar Pertumbuhan Anak WHO.

Selain itu, menurutnya, rendahnya tinggi badan anak, salah satu ciri utama stunting, juga masih kerap dianggap masalah keturunan. Padahal sebetulnya komposisi genetik bukan determinan primer yang menentukan tinggi badan. Kendala lingkungan merupakan persoalan yang jauh lebih penting. Karenanya, stunting bukanlah isu yang sederhana. Stunting, tak hanya merugikan pertumbuhan fisik dan kognitif, tapi juga kesehatan anak di masa mendatang.Kita mengenalnya sebagai fenomena Barker, yaitu dampak lanjutan dari stunting yang berefek pada kesehatan dan produktivitas anak. Tingkat kecerdasan yang menurun, rendahnya produktivitas anak ketika dewasa. Akibatnya, pendapatan yang diperoleh kurang dan tidak menghindarkan dirinya dari garis kemiskinan. Risiko tersebut belum termasuk ancaman diabetes mellitus dan penyakit jantung koroner yang diderita pada usia muda.

Efek ini tentunya bisa mempengaruhi kondisi negara. Kecilnya pemasukan masyarakat berarti pendapatan per kapita negara tersebut rendah. Hal ini berarti negara tersebut dilingkupi masalah kemiskinan. Mengerikan juga ya? Untuk itu, sebagai orangtua, kita juga harus amat memperhatikan asupan gizi yang diterima anak-anak. Sebab, makan banyak tidak berarti membuat anak akan tumbuh sehat, jika makanan tersebut tidak mengandung zat yang dibutuhkan oleh tubuh masing-masing anak.

Pada tahun 2012 diperkirakan 162 juta anak di bawah 5 tahun, atau 25%, terhambat pada tahun 2012. Lebih dari 90% anak-anak kerdil di dunia tinggal di Afrika dan Asia, di mana masing-masing 36% dan 56% anak-anak terpengaruh. Begitu didirikan, stunting dan pengaruhnya biasanya menjadi permanen.Anak-anak yang terhambat tidak akan pernah mendapatkan kembali ketinggian yang hilang akibat stunting, dan kebanyakan anak tidak akan pernah mendapatkan bobot tubuh yang sesuai.Tinggal di lingkungan di mana banyak orang buang air besar di tempat terbuka karena kurangnya sanitasi , merupakan penyebab penting pertumbuhan kerdil pada anak-anak, misalnya di India.

Anak-anak dengan stunting mempunyai risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak normal. Stunting bertanggung jawab atas 14% kematian pada anak-anak akibat gizi buruk, penurunan motor dan fungsi kognitif serta perilaku kelainan, dan gangguan imunitas. Tinggi badan anak-anak dengan stunting akan lebih pendek dibandingkan anak-anak normal, penurunan prestasi belajar, penurunan produktivitas kerja sehingga menimbulkan upah yang rendah, peningkatan risiko obesitas dan penyakit kardiovaskular, dan hasil perinatal yang buruk pada keturunan yang lahir dari ibu yang juga kerdil.

Dalam penelitian yang dilakukan di antara 845 anak-anak dengan pneumonia hipoksemik, stunting juga dikaitkan dengan pemulihan yang lebih lama dari pneumonia dibanding anak normal lainnya.Dengan meningkatnya urbanisasi dan pergeseran pola makan dan gaya hidup, stunting bisa menjadi epidemi yang berkembang dalam kondisi seperti ini di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah. Hal ini akan menciptakan tantangan ekonomi dan sosial baru, terutama di kalangan kelompok rentan terjadinya stunting.

Memperbaiki gizi anak memerlukan program nutrisi multi sektor secara efektif dan berkelanjutan dalam jangka panjang, dan banyak negara bergerak ke arah yang benar. Pengumpulan data secara teratur sangat penting untuk memantau dan menganalisis kemajuan negara, regional.

Kekurangan gizi dini tercermin pada pertumbuhan fisik anak-anak, dan berdampak pada hambatan perkembangan anak dari usia yang sangat muda. Namun penelitian dari studi kohort mengidentifikasi bahwa pertumbuhan anak tidak sepenuhnya tetap pada masa bayi. Beberapa anak dapat pulih dari stunting awal, sementara yang lainnya tertinggal setelah periode awal pertumbuhan normal. Memahami apa yang menentukan perubahan pertumbuhan balita pada anak-anak memberi pengetahuan tentang pola perkembangan (dan intervensi) yang dapat mendorong pertumbuhan sehat yang lebih berkelanjutan.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Ethiopia, membandingkan apakah anak-anak yang semula stunting tetap bertahan saat mereka dewasa. Ethiopia memiliki tingkat stunting yang tinggi pada masa bayi dan menunjukkan perubahan terbesar. Dalam sampel Young Lives, 46% anak-anak Etiopia mengalami stunting pada usia 1 tahun, namun setengah dari anak-anak ini tidak terhambat pada usia 5 tahun. Satu dari enam anak yang tidak kerdil pada usia 1 masih mengalami hambatan pada usia 5 tahun. Sebagian besar perubahan terjadi pada periode awal ini, namun bahkan antara usia 5 dan 8 tahun ada perubahan penting dalam pola pertumbuhan anak.

Indonesia berdasarkan penelitian bahwa Satu dari tiga anak Indonesia di bawah usia lima tahun mengalami kondisi tinggi badan di bawah standar umur (stunting) akibat  kekurangan gizi dan mengalami malnutrisi.Meski data Kementerian Kesehatan mencatat, bahwa angka stunting turun menjadi 29 persen berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi di 496 Kabupaten/Kota dengan sampel 165 ribu balita, namun isu malnutrisi pada anak tetap harus menjadi fokus perhatian.Selain itu, meski angka kemiskinan Indonesia turun dari 32,53 juta individu atau 14,15 persen pada tahun 2009, menjadi 11,47 persen atau 28,55 juta individu pada September 2013.Namun, jumlah balita pendek akibat kekurangan gizi mengalami peningkatan, yakni 37,2 persen dibandingkan dengan data 2010, yakni 35,6 persen.

Peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini (PAUD) menjadi bagian dari  komitmen dunia untuk mendorong seluruh negara lebih banyak menaruh perhatian kepada pendidikan anak usia dini. Agenda PAUD juga telah masuk dalam agenda PBB melalui Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, pendidikan anak usia dini yang berkualitas dapat memberikan dampak yang signifikan bagi peningkatan kualitas hidup anak di masa mendatang.

 

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terus mendorong perluasan layanan dan peningkatan mutu pendidikan anak usia dini yang lebih baik,pentingnya setiap anak Indonesia memperoleh layanan pendidikan anak usia dini. Ia menuturkan, PAUD yang berkualitas penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, serta mengoptimalkan potensi yang dimiliki anak. “Anak usia dini perlu mendapat kesempatan terbaik sejak awal kehidupannya dengan memperoleh pengalaman, baik dari stimulasi positif, perlindungan anak, hingga layanan kesehatan dan gizi,” tuturnya. 

Saat ini angka partisipasi kasar (APK) PAUD di Indonesia telah menunjukkan angka yang cukup baik, yaitu 72,35 persen. Sesuai amanat Nawa Cita untuk pemerataan layanan pendidikan, maka pembangunan perluasan PAUD diarahkan ke desa-desa yang belum memiliki layanan PAUD, terutama daerah terdepan, perbatasan, dan pedalaman. Pada tahun 2017 ini, pemerintah telah mengalokasikan Dana Alokasi Khusus Bantuan Operasional Penyelenggaraan (DAK BOP) PAUD sebesar Rp3,35 trilyun.

Peran keluarga menjadi sorotan, terutama kerja sama ayah dan ibu untuk ikut memerangi stanting atau kondisi tinggi badan di bawah standar umur yang disebabkan kekurangan gizi kronis harus dimulai sejak ibu merencanakan kehamilan. Peran ayah dalam mendukung kesehatan ibu dan anak menjadi sorotan.Sebenarnya peran kedua orang tua, baik ibu maupun ayah, sangat penting bagi kesehatan dan gizi keluarga. Namun, menurut dia, banyak keluarga, kesehatan dan gizi sering dianggap merupakan urusan para ibu, sedangkan ayah cenderung jarang terlibat maupun dilibatkan.Ayah bisa mengambil peran sebagai penyedia dan pengolah makanan dengan asupan gizi seimbang, memberikan kesempatan cukup istirahat agar ibu dan anak sehat.

 Ketika anak lahir, ia mengatakan ayah kembali berperan penting untuk memastikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama umur si bayi. Untuk memperlancar ASI, ibu butuh asupan gizi lebih banyak ketimbang saat hamil, serta rileks dan bahagia, yang tentu juga memerlukan dukungan ayah.peningkatan peran ayah diharapkan akan mencegah stanting dan mendukung pertumbuhan anak sehat dan cerdas di Indonesia. Mereka adalah generasi penerus yang akan membantu menyejahterakan keluarga, meningkatkan ekonomi, dan membangun Indonesia.

Adapun cara mencegah anak usia dini dari ancaman stunting ini diantaranya adalah :

  1. Pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil. Ibu hamil dan menyusui merupakan kelompok yang rentan gizi.
  2. Pendidikan dan penyuluhan gizi bagi calon ibu dan ibu hamil.
  3. Pemberian ASI Eksklusif hingga 6 bulan serta pemberian makanan pendamping ASI setelah 6 bulan.
  4. Perilaku hidup bersih dan sehat harus ditanamkan disetiap lingkungan keluarga

Dari akibat-akibat yang ditimbulkan oleh masalah gizi di atas, dapat kita simpulkan bahwa pendidikan gizi sangat penting bagi anak usia dini dan harus diterapkan sejak janin masih dalam kandungan. Seperti kita ketahui bersama, bahwa anak usia dini merupakan golden age (masa keemasan) dimana otak anak berkembang lebih dari 50%. Hal ini tidak akan terjadi ketika anak mengalami masalah-masalah gizi khususnya stunting. Oleh karenanya pendidikan gizi amat sangat penting diterapkan kepada orang tua untuk mencegah hal-hal yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini.

(Sumber: googgle, ditulis kembai oleh Habib Prastyo.M.Pd)

 



Pengirim :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas