Banner
BPPAUDDIKMAS KALTENGDITJEN PAUDDIKMAS
Jajak Pendapat
Bagaimana menurut Anda tentang tampilan website ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
  Lihat
Statistik

Total Hits : 8671
Pengunjung : 922
Hari ini : 7
Hits hari ini : 21
Member Online : 0
IP : 23.20.7.34
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

karsajobfair    
Agenda
22 May 2018
M
S
S
R
K
J
S
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9

KONSEP SAINS BAGI PAUD

Tanggal : 05-12-2017 08:37, dibaca 18 kali.
KONSEP SAINS BAGI PAUD
Oleh: Dadan Mulyana, S.Si, MM

Anak usia dini atau prasekolah memiliki berbagai potensi besar karena sedang berada pada masa usia keemasan. Salah satu penelitian menyebutkan kecerdasan anak pada usia empat tahun sudah mencapai 50%, perkembangan otaknya menempati posisi yang paling vital yakni pada usia delapan tahun mencapai 80%, selain itu fungsi motorik, dan system emosional kognitif juga dapat dikembangkan pada masa ini. Karena pendidikan anak usia dini mampu memberikan rangsangan sebagai peletak dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.

Perlu diingat, setiap anak itu mempunyai potensi yang unik sejak lahir di muka bumi ini, baik secara fisik (jasmani) maupun non fisik (akal, hati dan lain sebagainya), dan sesungguhnya kunci dari semua itu ketika anak tersebut berumur 0 – 6 tahun, seperti yang tertuang dalam UU Nomor 20/2003 tentang Sisdiknas pada pasal 28. Bahkan dalam pasal tersebut juga dijelaskan ada 4 (empat) unsur yang harus dipenuhi dalam pengembangan anak usia dini yaitu: pertama, pembinaan anak usia dini merupakan pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun. Kedua, pengembangan anak usia dini dilakukan melalui rangsangan pendidikan. Ketiga, pendidikan anak usia dini bertujuan untuk dapar membantu pertumbuhan dan pengembangan jasmani dan rohani (holistik). Keempat, pengembangan dan pendidikan anak usia dini merupakan persiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Benyamin S Bloom dari Universitas Chicago AS pernah mengatakan, seorang anak jika diperlakukan benar dapat berkembang lebih tinggi, hidup lebih baik, dan berpikir lebih cemerlang.Oleh karenanya tidak ada salahnya anak usia dini pun perlu diperkenalkan sains sesuai dengan dengan tahapan umur dan perkembangannya. Sebagian besar waktu dari anak usia dini dihabiskan bersama orang tua. Maka yang perlu dilakukan orang tua adalah meluangkan sedikit waktu untuk bermain dengan anak.Dalam situasi bermain itulah kita dapat melakukan eksperimen sains dan mengenalkan matematika.
Mata Pelajaran sains memang tidak tercantum di dalam kurikulum PAUD, tetapi hal itu bukan berarti bahwa sains tidak ada di PAUD. Sains di PAUD tetap ada dan terpadu dengan bidang lainnya hampir di setiap tema. Pengenalan sains untuk anak PAUD jika dilakukan dengan benar akan mengembangkan secara bertahap kemampuan berpikir logis yang belum di miliki anak, mengarahkan dan mendorong anak menjadi seorang yang kreatif dan penuh inisiatif.
Mengenalkan Sains Sejak Dini
Mengenalkan sains dan matematika pada anak bukan berarti mengenalkan rumus-rumus. Suasana harus fun, sehingga anak dalam kondisi ceria akan bertanya mengapa bisa demikian? Apakah kejadian selanjutnya?Dan sebagainya.
Sofia Hartati, Dosen PG-PAUD FIP UNJ, dalam seminar kependidikan sains dengan tema “Mengenal Sains Sejak Dini” bagi kepala sekolah & guru TK, yang diselenggarakan oleh Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK), memaparkan bahwa untuk menumbuhkan kreatifitas pada anak usia dini sangat penting mengingat seorang anak akan lebih cepat belajar menggunakan apapun yang berhubungan dengan kehidupan mereka sehari-hari. Untuk dapat memberikan pendidikan semacam itu, para guru dituntut untuk dapat kreatif membuat dan menciptakan berbagai metode baru yang sesuai dengan permasalahan tersebut.
.
Salah satu pendekatan yang banyak digunakan dalam pengenalan sains di PAUD adalah pendekatan Open Inquiry.Pendekatan ini tidak bertujuan mengajarkan suatu konsep sains kepada anak, tetapi lebih mengajak anak melakukan eksplorasi terhadap fenomena alam melalui interaksi langsung dengan obyek. Anak berlatih melakukan observasi, memanipulasi obyek, mengukur, mengklasifikasi obyek, melakukan percobaan sederhana, dan dilanjuAnak Usia Dinian dengan mengkonstruksi pengetahuan sesuai dengan pola pikirnya yang masih sinkretik.
Pola pikir anak yang bersifat sinkretik menyebabkan anak tidak dapat melihat hubungan antarvariabel sebagai hubungan sebab-akibat (causality) yang logis. Bagi anak PAUD, dua atau lebih variabel dapat saja dihubungkan sehingga hal itu sering disebut hubungan sebab-akibat yang magis (magical causality) (Wolfinger, 1994). Mengenal hubungan antar variabel merupakan keterampilan dasar yang amat penting di dalam belajar sains selanjutnya. Sains juga melatih anak melakukan eksplorasi terhadap berbagai benda di sekitarnya. Anak akan menemukan berbagai gejala benda dan gejala peristiwa yang ada di alam sekitarnyayang akan membangkitkan rasa ingin tahu anak untuk belajar sains lebih lanjut. Di dalam eksplorasinya, anak menggunakan lima inderanya untuk mengenal berbagai gejala alam melalui kegiatan observasi (penginderaan) sehingga kemampuan observasinya meningkat. Anak akan memperoleh pengetahuan baru hasil interaksinya dengan berbagai benda yang diobservasinya. Pengetahuan yang diperolehnya akan berguna sebagai modal berpikir dan belajar lebih lanjut.
Melalui sains, anak dapat melakukan percobaan sederhana.Percobaan tersebut melatih anak menghubungkan sebab dan akibat dari suatu perlakuan sehingga melatih anak berpikir logis.Di dalam sains, anak juga berlatih menggunakan alat ukur untuk melakukan pengukuran. Alat ukur tersebut dimulai dengan alat ukur non-standar, seperti jengkal, depa, atau kaki dan dilanjutkan dengan alat ukur standar, seperti meteran dan timbangan. Anak secara bertahap berlatih menggunakan satuan yang akan memudahkan anak untuk berpikir secara logis dan rasional. Dengan demikian sains akan melatih anak untuk mengembangkan keterampilan proses sains, kemampuan berpikir logis, dan pengetahuan.
Begitu banyak sisi positif dari pengenalan sains melalui pendekatan Open Inquiry bagi anak PAUD.Pendekatan ini menggabungkan esensi bermain dan belajar. Guru mengajak anak untuk bermain dan dilanjutkan dengan investigasi dan tantangan, sehingga anak mengalami akselerasi dan eskalasi. Oleh karena itu para guru PAUD perlu kiranya mempelajari pendekatan Open Inquiry agar dapat membelajarkan anak dengan benar.
Beberapa tahun terakhir ini, belajar IPA (sains dan matematika) di berbagai sekolah di Indonesia menunjukkan hasil yang kurang memuaskan.Ini menandakan penyadaran sains pada generasi mendatang masih harus dilakukan secara terus-menerus.Sebab empat cabang ilmu yang sangat diperlukan dalam pengembangan teknologi adalah fisika, kimia, biologi modern, dan matematika.Keempat cabang ilmu inilah yang kemudian disebut sebagai sains dan matematika.
Saat ini terjadi kontroversi mengenai pembelajaran pada pendidikan anak usia dini. Mungkinkah anak usia dini diberi materi pelajaran, diajari membaca, menulis, dan berhitung? Menurut Jerome Bruner, setiap materi dapat diajarkan kepada setiap kelompok umur. Tentu cara-caranya disesuaikan dengan perkembangan umur masing-masing.Jadi, sains dan matematika sebenarnya dapat diperkenalkan kepada anak sejak usia dini. Tentu dengan memperhatikan cara dan bahasa penyampaiannya, serta disesuaikan dengan umur dan perkembangan si anak.
Sains bagi Anak Usia Dini
Sains merupakan disiplin ilmu yang mempelajari obyek alam dengan metode ilmiah (Sund, 1989). Untuk anak usia dini, obyek tersebut meliputi benda-benda di sekitar anak dan benda-benda yang sering menjadi perhatian anak. Air, udara, bunyi, api, tanah, tumbuhan, hewan, dan dirinya sendiri merupakan obyek-obyek sains yang sering menjadi perhatian anak. Berbagai gejala alam seperti hujan, angin, petir, kebakaran, hewan yang beranak, tumbuhan yang berbuah juga menarik bagi anak. Obyek-obyek tersebut dipelajari melalui metode ilmiah, yang bagi anak usia dini perlu disederhanakan. Observasi, eksplorasi, dan eksperimentasi sederhana dapat dilakukan anak. Anak dapat pula melakukan proses sains lainnya, seperti melakukan pengukuran, menggunakan bilangan, dan melakukan klasifikasi. Produk sains untuk anak usia dinilebih dominan berupa pengetahuan tentang fakta-fakta dan gejala peristiwa tentang benda-benda alam.
Sains juga dapat dikatakan sebagai produk dan proses.  Sebagai produk, sains adalah pengetahuan yang terorganisir dengan baik mengenai dunia fisik alami.  Sebagai proses, sains mencakup kegiatan menelusuri, mengamati dan melakukan percobaan.  Kegiatan bermain sains sangat penting diberikan untuk anak usia dini karena multi manfaat, yakni dapat mengembangkan kemampuan:
Eksplorasi dan investigasi, yaitu kegiatan untuk mengamati dan menyelidiki objek serta fenomena alam
Mengembangkan keterampilan proses sains dasar, seperti melakukan pengamatan, mengukur, mengkomunikasikan hasil pengamatan, dan sebagainya.
Mengembangkan rasa ingin tahu, rasa senang dan mau melakukan kegiatan inkuiri atau penemuan.
Memahami pengetahuan tentang berbagai benda baik ciri, struktur maupun fungsinya.

NSTA (National Science Teacher Association) (2005) salah satu standar sains untuk anak usia dini hingga Kelas 4 SD adalah sains sebagai cara penyelidikan (science as inquiry). Standar ini menyatakan pentingnya melatih anak melakukan “penyelidikan” terhadap berbagai fenomena alam.
Menurut Piaget (1972), perkembangan kognitif anak usia 5-6 tahun sedang dalam masa peralihan dari fase Pra-operasional ke fase Konkret operasional. Cara berpikir konkret berpijak pada pengalaman akan benda-benda konkret, bukan berdasarkan pengetahuan atau konsep-konsep abstrak (Wolfinger, 1994). Pada tahap ini anak belajar terbaik melalui kehadiran benda-benda.Obyek permanen (object permanency) sudah mulai berkembang.Anak dapat berlajar mengingat benda-benda, jumlah dan ciri-cirinya meskipun bendanya sudah tidak berada dihadapannya.Setelah mengamati mobil, anak dapat mengingat warnanya, banyaknya roda, atau ciri lainnya. Anak juga mulai mampu menghubungkan sebab- akibat yang tampak secara langsung. Anak juga dapat membuat prediksi berdasarkan hubungan sebab-akibat yang telah diketahuinya. Misalnya dengan melihat awan yang hitam anak mengatakan akan turun hujan.
Cara berpikir anak usia dini, selain bersifat konkret, sebagian lagi masih bersifat transduktif. Anak menghubungkan benda-benda dan atribut baru yang dipelajarinya berdasarkan pengalamannya berinteraksi dengan benda-benda sebelumnya.Anak biasanya hanya memperhatikan salah satu ciri benda yang menurutnya paling menarik untuk membuat kesimpulan. Cara pengambilan kesimpulan seperti itu disebut cara berpikir transduktif. Misalnya, anak pernah melihat sebuah layang- layang berwarna merah terbang tinggi. Ketika ia membeli layang-layang ia akan memilih yang berwarna merah, karena ia berpikir hanya layang-layang berwarna merah yang bisa terbang tinggi.
Anak usia dini masih sulit membuat generalisasi atau menarik kesimpulan yang mencakup semua fakta. Sebagai contoh, anak dihadapkan pada satu keranjang buah-buahan yang di dalamnya ada pisang, semangka, salak, dan mangga. Lalu kepadanya ditanya apa isi keranjang tersebut. Anak biasanya mejawab dengan cara menyebutkan satu per satu isinya, yaitu pisang, semangka, salak dan mangga. Ia tidak mengambil kesimpulan bahwa isi keranjang tersebut adalah buah-buahan.
Anak usia juga juga memiliki cara berpikir yang disebut sinkretik (syncretic reasoning). Arti harfiah dari sinkretik ialah “gila”, dikarenakan cara berpikir anak tidak masuk akal atau “gila” bagi orang dewasa, terutama yang terkait dengan hubungan sebab-akibat. Bagi anak usia dini, dua hal yang terjadi bersamaan dapat dihubungkan sebagai hubungan sebab-akibat. Alkisah, seorang guru melihat tanaman yang ada di pot di dalam kelas daunnya layu. Lalu Si guru bertanya “Anak-anak, mengapa tumbuhan ini layu?”, sambil menunjuk tumbuhan tersebut. Secara serempak anak-anak menjawab “Karena ada rak buku baru, Bu…” Memang benar sehari sebelumnya ada rak buku baru yang ditaruh di dekat pot tersebut. Bagi anak usia dini menghubungkan dua variabel apa saja, seperti tumbuhan yang layu dengan kehadiran almari baru, sah-sah saja, meskipun hal itu tidak masuk akal bagi orang dewasa.
Bagi anak usia 3-5 tahun, hubungan sebab-akibat bersifat magis atau ajaib. Suatu saat seorang guru mengikatkan seutas benang ke sebuah paku dan mengkatkan ujung yang lain dengan sebuah meja. Lalu ia mendekatkan sebuah magnet ke paku tersebut. Paku tersebut tiba-tiba melayang ke atas, menarik benang ke arah magnet.Anak-anak yang mengamati sepontan berteriak “Ajaib!”Sampai beberapa hari mereka terus membicarakan “keajaiban” Si guru meskipun telah dijelaskan bahwa magnet memiliki sifat menarik benda-benda yang terbuat dari logam termasuk paku.
Anak usia 5-6 tahun, hubungan sebab-akibat sedikit berkembang dari “ajaib”, menjadi pra-sebab-akibat (precausal reasoning). Pemikiran sebab-akibat sudah mulai berkembang, tetapi belum logis benar. Anak tidak secara jelas menyatakan hubungan antara sebab dan akibat sebagai hubungan antarvariabel dalam sains. Piaget (1972), berdasarkan hasil dialognya dengan anak, membedakan pra-sebab - akibat menjadi tujuh tipe seperti berikut ini.
1. Motivasi
Anak usia dini menghubungkan sebab dan akibat sebagai bentuk fungsi atau motivasi dari suatu benda terhadap benda lainnya. Oleh karena itu anak sering bingung antara pertanyaan “mengapa” dengan “untuk apa”. Jika anak ditanya mengapa dua gunung itu berdekatan?Seakan-akan pertanyaan tersebut menjadi “Untuk apa dua gunung itu berdekatan?” Anak mungkin akan menjawab, satu untuk anak laki-laki dan satu untuk anak perempuan. Mengapa matahari tidak kelihatan di malam hari?Tuhan menyimpannya untuk besok.
2. Finalisme
Anak sering menyatakan hubungan sebab-akibat sebagai suatu takdir. Segala sesuatu terjadi bukan sebagai akibat oleh faktor lain, tetapi karena memang terjadi begitu saja, apa adanya, atau karena takdir. Mengapa kaca ini berserakan di lantai?Karena pecah.Mengapa air sungai mengalir ke laut? Ya, memang air sungai mengalir kelaut.
3. Fenomenisme
Anak sering berpikir bahwa dua hal yang mirip dapat dihubungkan sebagai sebab- akibat. Jangan main api, nanti disambar petir (petir juga api atau mirip api). Di Indonesia anak-anak takut untuk menunjuk makam dengan jarinya karena ada kepercayaan kalau menunjuk makam jarinya busuk.“Jangan menunjuk makam, nanti jarinya busuk.”Hal itu masuk akal bagi anak karena dua hal itu mirip (karena orang mati membusuk, menunjuk makam juga jarinya membusuk).
4. Moralisme
Cara berpikir ini mirip dengan motivasi dan finalisme, tetapi penyebab utamanya ialah benda itu sendiri, seakan-akan benda punya moral.Mengapa mobil bisa berjalan?Agar dapat mengangkut orang (bukan karena punya mesin yang berputar).Mengapa matahari bersinar di siang hari?Agar manusia dapat melihat.Mengapa senapan bisa meledak?Agar dapat menembak penjahat.
5. Artifisialisme
Anak memandang bahwa semua akibat disebabkan oleh manusia. Jadi penyebab segala sesuatu adalah manusia. Mengapa air laut bergelombang? Manusia menaruh banyak perahu di laut.Mengapa pesawat terbang dapat terbang dengan kencang dan bersuara keras? Karena pilot menaikinya dan membuatnya marah.
6. Animisme
Animisme merupakan suatu pandangan bahwa semua benda itu hidup dan memiliki kemauan.Anak berpikir bahwa benda-benda yang bergerak, bersinar, atau bersuara itu hidup.Mengapa mobil bergerak? Karena ia hidup. Mengapa awan bergerak?Karena awan itu hidup.Mengapa lampu bersinar? Karena ia hidup. Mengapa geledek bersuara keras? Karena ia hidup. Itulah sebabnya anak TK sulit memahami konsep tentang hidup.
7. Dinamisme
Dinamisme mirip dengan pandangan animisme di mana benda-benda memiliki kekuatan untuk melakukan sesuatu terhadap benda lainnya.Mengapa air sungai mengalir dari gunung ke laut?Karena gunung mendorongnya ke laut.Mengapa angin bertiup dari laut ke darat?Laut meniupnya ke darat.
Sekarang banyak buku panduan yang dapat diperoleh di toko buku.Orang tua dapat menambah wawasan tentang sains dan matematika, dengan membacanya terlebih dulu untuk dapat menjawab setiap pertanyaan anak.Yang perlu diingat, jangan berlaku sok tahu dalam menanggapi pertanyaan anak.Jangan pula mematahkan semangatnya dalam bertanya dan belajar.
Ada beberapa jenis keterampilan sains dapat dilatihkan pada anak usia dini. Pertama, mengamati.Caranya, ajak anak-anak mengamati fenomena alam yang terjadi di sekeliling kita.Dimulai dari yang paling sederhana.Misalnya, mengapa es bisa mencair?Mengapa ada siang dan malam, dan sebagainya.
Kedua, mengelompokkan.Dalam hal ini, anak diminta untuk menggolongkan benda sesuai kategori masing-masing. Misalnya kelompok bunga-bungaan, kelompok biji-jian, kelompok warna yang sama, dan lain sebagainya.
Ketiga, memprediksi. Misalnya, berapa lama es akan mencair, berapa lama lilin akan meleleh, berapa lama air yang panas akan menjadi dingin, dan seterusnya. Keempat, menghitung.Kita mendorong anak untuk menghitung benda-benda yang ada di sekeliling, kemudian mengenalkan bentuk-bentuk benda kepadanya.
Oleh karenanya dengan sains membiasakan anak-anak mengikuti tahap-tahap eksperimen dan tak boleh menyembunyikan suatu kegagalan.Artinya, sains dapat melatih mental positif, berpikir logis, dan urut (sistematis).Di samping itu, dapat pula melatih anak bersikap cermat, arena anak harus mengamati, menyusun prediksi, dan mengambil keputusan.
Bermain Dengan Sains
Bruner menyatakan, setiap materi dapat diajarkan kepada setiap kelompok umur dengan cara-cara yang sesuai dengan perkembangannya (Supriadi, 2002: 40).Kuncinya adalah pada permainan atau bermain. Permainan atau bermain adalah kata kunci pada pendidikan anak usia dini. Ia sebagai media sekaligus sebagai substansi pendidikan itu sendiri. Dunia anak adalah dunia bermain, dan belajar dilakukan dengan atau sambil bermain yang melibatkan semua indra anak.
Bruner dan Donalson dari telaahnya menemukan bahwa sebagian pembelajaran terpenting dalam kehidupan diperoleh dari masa kanak-kanak yang paling awal, dan pembelajaran itu sebagian besar diperoleh dari bermain.Sayangnya, menurut Samples bermain sebagai gagasan yang dikaitkan dengan pembelajaran kurang mendapatkan apresiasi dalam berbagai lingkungan budaya (Supriadi, 2002: 40).
Bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius tetapi menyenangkan.Menurut Conny R. Semiawan (Jalal, 2002: 16) bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan, bukan karena hadiah atau pujian.Melalui bermain, semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan.Dengan bermain secara bebas anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru.Melalui permainan, anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal, baik potensi fisik maupun mental intelektual dan spritual. Oleh karena itu, bermain bagi anak usia dini merupakan jembatan bagi berkembangnya semua aspek.
Dengan demikian, bermain merupakan tuntutan dan kebutuhan esensial bagi anak usia dini. Dengan bermain, anak dapat memuaskan tuntutan dan kebutuhan perkembangan dimensi motorik, kognitif, kreativitas, bahasa, emosi, nilai, dan sikap hidup.
Menurut Whiterington (1979), bermain mempunyai fungsi mempermudah perkembangan kognisi anak dan memungkinkan anak melihat lingkungan, mempelajari sesuatu, dan memecahkan masalah yang dihadapi. Selain itu, bermain juga dapat meningkatkan perkembangan sosial anak.
Kritik yang ditujukan kepada sejumlah TK bukan karena mereka mengajarkan berhitung, membaca, dan menulis melainkan caranya yang salah seakan-akan menjadikan TK sebagai miniatur SD. Padahal PAUD itu sesuatu yang lain dengan landasan psikologis dan pedagogis yang berbeda. Belajar Quantum dari De Porter & Hernacki serta revolusi belajar yang dibawakan oleh Dryden & Vos (Supriadi, 2002: 41) meletakkan titik berat pada “pendinian” belajar pada anak dengan memilih cara-cara yang sesuai, bukan pengakademikan belajar pada usia dini – dua hal yang sangat besar perbedaannya. Pembelajaran pada anak usia dini dapat dilaksanakan dengan menggunakan beberapa metode (Direktorat PADU,2001; Depdikbud, 1998), diantaranya yaitu:
1. Bercerita
Bercerita adalah menceritakan atau membacakan cerita yang mengandung nilai-nilai pendidikan.Melalui cerita daya imajinasi anak dapat ditingkatkan.Bercerita dapat disertai gambar maupun dalam bentuk lainnya seperti panggung boneka.Cerita sebaiknya diberikan secara menarik dan membuka kesempatan bagi anak untuk bertanya dan memberikan tanggapan setelah cerita selesai. Cerita tersebut akan lebih bermanfaat jika dilaksanakan sesuai dengan minat, kemampuan dan kebutuhan anak.
2. Bernyanyi
Bernyanyi adalah kegiatan dalam melagukan pesan-pesan yang mengandung unsur pendidikan.Dengan bernyanyi anak dapat terbawa kepada situasi emosional seperti sedih dan gembira.Bernyanyi juga dapat menumbuhkan rasa estetika.


3. Berdarmawisata
Darmawisata adalah kunjungan secara langsung ke obyek-obyek yang sesuai dengan bahan kegiatan yang sedang dibahas di lingkungan kehidupan anak.Kegiatan tersebut dilakukan di luar ruangan terutama untuk melihat, mendengar, merasakan, mengalami langsung berbagai keadaan atau peristiwa di lingkungannya. Hal ini dapat diwujudkan antara lain melalui darmawisata ke pasar, sawah, pantai, kebun, dan lainnya.
4. Bermain peran
Bermain peran adalah permainan yang dilakukan untuk memerankan tokoh-tokoh, benda-benda, dan peran-peran tertentu sekitar anak. Bermain peran merupakan kegiatan menirukan perbuatan orang lain di sekitarnya. Dengan bermain peran, kebiasaan dan kesukaan anak untuk meniru akan tersalurkan serta dapat mengembangkan daya khayal (imajinasi) dan penghayatan terhadap bahan kegiatan yang dilaksanakan.
5. Peragaan/Demonstrasi
Peragaan/demonstrasi adalah kegiatan dimana tenaga pendidik/tutor memberikan contoh terlebih dahulu, kemudian ditirukan anak-anak.Peragaan/demonstrasi ini sesuai untuk melatih keterampilan dan cara-cara yang memerlukan contoh yang benar.
6. Pemberian Tugas
Pemberian tugas merupakan metode yang memberikan kesempatan kepada anak untuk melaksanakan tugas berdasarkan petunjuk langsung yang telah dipersiapkan sehingga anak dapat mengalami secara nyata dan melaksanakan tugas secara tuntas.Tugas dapat diberikan secara berkelompok ataupun individual.
7. Latihan
Latihan adalah kegiatan melatih anak untuk menguasai khususnya kemampuan psikomotorik yang menuntut koordinasi antara otot-otot dengan mata dan otak.Latihan diberikan sesuai dengan langkah-langkah secara berurutan.



Pengirim :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas